Yayasan Geutanyoe Gagas Sekolah Lapang Untuk Pengungsi Rohingya Blang Adoe

Our North Aceh team in the news today, advocating for a farmer's field school for Rohingya refugees in Blang Adoe. Our team is supporting the refugees with the planting of crops such as corn, chilies, spinach and celery.

LINTAS NASIONAL – LHOKSUKON, Yayasan Geutanyoe (YG) kembali menggagas program pedampingan dengan cara membuka sekolah lapang pertanian kepada para pengungsi Rohingya di Shelter Blang Adoe Aceh Utara, Senin 21 September 2015.

Program Officer  Advokasi dan Dokumentasi Yayasan Geutanyoe Aceh Utara, Zulfadhli Kaom mengatakan pada tahap pertama ini kami sudah memfasilitasi 11 orang pengungsi untuk diberikan pembinaan dan pelatihan mengenai tata cara mengelola lahan pertanian melalui sekolah lapang.

“Perlunya lahan pertanian ini untuk memberikan mereka pekerjaan dan kegiatan seperti yang sudah mereka kerjakan di negara asal mereka,” ujarnya.

Menurutnya, melalui sekolah lapang pertanian ini bisa membantu para pengungsi dalam menunjang kebutuhan pangan mereka, selain itu juga sebagai penghasilan ekonomi taraf kecil bagi mereka.

“Kita mengharapkan pengungsi terbiasa menjadi mandiri, karena selama ini kita melihat mereka memiliki kemampuan dan keahlian dalam bertani sehingga program ini sudah tidak asing bagi pengungsi,” terangnya.

Lebih lanjut Zulfadhli Kaom menambahkan, adapun untuk tahap pertama ini kita bersama dengan kelompok pertanian pengungsi Blang Adoe sudah menanam beberapa jenis tumbuhan seperti cabai, jagung, bayam, tomat, kacang panjang, sirih, terong, seledri, dan semangka.

“Sampai saat ini kami hanya memfasilitasi tanaman komoditi lokal (Aceh-Indonesia) yang mudah tumbuh dan mudah dirawat, pengungsi juga ingin menanam tanaman bendi (sejenis kacang-kacangan), namun kita belum mendapatkan bibit di Aceh, kita sudah mengupayakan untuk dikirimkan melalui jaringan YG yang berada di Thailand dan Malaysia,” tutupnya. (MKH)

STAY CONNECTED
twitter
© 2016 YAYASAN GEUTANYOË
We are dedicated to cultivating and upholding values of humanity, dignity, peace and sustainability in Aceh and Southeast Asia.

Menu